My Journey

I am imagination. I can see what the eyes can't see. I can hear what the ears can't hear. I can feel what the heart can't feel.

Happy Birthday Super Mom!

Terima kasih untuk sebuah kehidupan..

Terima kasih untuk lelahnya perjalanan membawaku di dalam kandunganmu..

Terima kasih untuk perjuangan melawan maut saat melahirkanku..

Terima kasih untuk kasih sayang yang tak pernah usai..

Semua ketulusanmu tak akan pernah mampu terbalaskan..

Ibu, Ibu, Ibu..

Kini saatnya tugasku untuk merawatmu dalam masa tuamu..

Tetaplah genggam tangan ini..

Jangan kau lepaskan..

Janjiku untuk merawatmu..

Hingga akhir hayatmu..

Selamat ulang tahun Ibu..

 Terima kasih untuk sebuah kehidupan..

 

Prayer

Whenever you are alone, remind yourself that Allah had sent everyone away so that it’s only you and HIM! 

When you speak to Allah, don’t be embarrassed to tell Him anything. The most beautiful thing is that He knows what you are about to tell Him and yet.. He STILL listens.

"Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu.." (QS. Al-Mu’min : 60)

"Dan apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepadaKu, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintahKu) dan hendaklah mereka beriman kepadaKu, agar mereka selalu berada dalam kebenaran." (QS. Al-Baqarah : 186) 

 

Other Side Of Me… (Fashion is My Passion)

"Be sure what you want and be sure about yourself. Fashion is not just beauty, it’s about good attitude. You have to believe in yourself and be strong" - Adriana Lima

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Labbaik Allahumma Labbaik…

"Dan sempurnakanlah ibadah haji dan umroh karena Allah” (QS. Al-Baqarah ayat 196)

Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah SAW telah bersabda Umroh ke Umroh berikutnya adalah penebus dosa diantara keduanya” (HR. Bukhari & Muslim)

Saya mempunyai beberapa pengalaman spiritual ketika tengah melakukan ibadah umroh beberapa tahun lalu. Kata kebanyakan orang apa yang kita perbuat di dunia akan ditunjukkan atau dibalas saat tengah berada di tanah suci. Tak sedikit pun orang yang mengalami ketakutan saat hendak ke tanah suci. Apa yang kau perbuat di dunia maka akan kau dapatkan di tanah suci…

Saat itu saya dan jamaah perempuan tengah menunggu datangnya adzan isya di masjidil haram. Jarak dari adzan maghrib menuju adzan isya hanya sebentar, oleh sebab itu kebanyakan jamaah umroh dari Indonesia menunggu datangnya adzan isya dengan berdzikir dan membaca Quran di dalam masjid.

Ketika itu tiba-tiba perut saya terasa lapar sekali. Terakhir perut diisi saat makan siang. Jadwal makan di hotel dibagi menjadi tiga kali sehari. Pagi setelah menunaikan sholat subuh, siang setelah sholat dzuhur dan malam setelah sholat isya.

Saat itu saya hanya berdoa di dalam hati. Kira-kira begini isi doanya…

Ya Rabb.. Perut saya lapar. Jika diizinkan, saya ingin sekali makan untuk mengisi perut yang sedang perih ini..”

Saya terus berdzikir sampai ada anak kecil asal Arab berjenis kelamin laki-laki sekitar usia tiga tahun berlari ke arah saya. Dia memberikan saya sebuah gelas. Dia mengulurkan tangannya dan tersenyum. Saya pun tercengang melihat anak kecil tersebut. Saya tengok ke sebelah kanan dan ke sebelah kiri saya. Takut-takut anak tersebut tengah berbicara dengan orang lain.

You..”

Anak Arab itu menunjuk ke arah saya.

Ma? Maksudnya apa?”

Saya bertanya kepada mama karena masih tidak mengerti apa yang dimaksud oleh anak kecil itu.

Ambil din.. Dia kasih untuk kamu”

Seluruh tubuh saya lemas seketika. Karena saya tengah sangat lapar, saya ambil gelas dari tangan anak tersebut. Gelas berisikan beberapa kurma dan manisan khas Saudi Arabia.

Syukron”

Setelah saya mengucapkan terima kasih, anak kecil itu lari dan hilang dikerumunan orang secara perlahan.

Tangan saya masih bergetar memegang gelas dan masih tidak percaya apa yang terjadi beberapa detik yang lalu.

Kamu suka memberi makanan ke semua orang, Allah membalasnya kali ini..” ujar mama tersenyum ke arah saya.

Saat tengah melakukan tawaf di siang hari, saat matahari tengah gencar menampakkan sinarnya langsung ke arah bumi, Mekkah tengah berada pada suhu tiga puluh delapan derajat celcius. Mekkah mengalami puncak musim panas. Tetapi saya tidak merasakan panasnya ketika itu. Di tengah cuaca yang terik, entah dari mana asalnya, sekeliling bangunan ka’bah mengeluarkan angin yang sangat sejuk. Hembusan anginnya berbeda. Saya baru merasakan pertama kali hembusan angin seperti itu. Semerbak aroma wangi juga muncul dari sekeliling bangunan ka’bah. Wanginya juga berbeda. Bukan aroma wangi dari parfum seperti umumnya.

Seusai menunaikan sholat maghrib dan menunggu datangnya adzan isya di lain harinya di masjidil haram, di depan shaf sholat saya, ada anak perempuan asal Saudi Arabia. Umurnya kira-kira sepuluh tahun. Dia tengah melakukan liburan sekolah. Ya, enaknya menjadi warga Saudi Arabia, liburan sekolah mereka habiskan untuk beribadah di masjidil haram.

Anak perempuan yang saya lupa namanya, tersenyum terus ke arah saya. Saya yang tak mengerti bahasa arab, menanyakan apa yang dia utarakan kepada saya lewat pembimbing umroh.

Dia suka sama kamu. Dia juga suka sama mukena yang kita pakai. Di Arab nggak ada mukena seperti yang kita pakai”

Dari awal berkenalan dengannya sampai saya hendak pulang ke hotel, anak tersebut terus memandangi saya sambil tersenyum dan sesekali memegang tangan saya. Dan saya masih tidak mengerti kenapa anak tersebut bisa sangat menyukai saya, padahal kami belum pernah bertemu…

Menunggu adzan maghrib di masjid nabawi ketika hari kamis menjadi kebahagiaan tersendiri bagi saya. Karena warga Madinah ramahnya luarr biasaa.. Warga Madinah yang tengah melakukan puasa sunnah senin-kamis, menggelar dan membagikan makanan dan minuman khas Arab kepada semua jamaah di masjid nabawi termasuk kami dari Indonesia…

Ingin rasanya saya mengulang kembali moment-moment tersebut. Semoga Allah SWT berkenan mengizinkan saya untuk kembali bertamu ke rumahNya di tahun depan dan memberikan kelancaran sampai hari itu tiba…

Love You, Pah!

“Father doesn’t tell you that he loves you. He shows you” – Demitri The Stoneheart

Saya sangat jatuh cinta dengan pria yang satu ini. Sosoknya yang selalu menjaga saya membuat saya merasa aman berada di dekatnya. Pria ini tidak pernah berkata kasar terhadap siapapun terutama terhadap saya. Dia menghabiskan separuh hidupnya dengan semua hal yang berkaitan dengan pesawat terbang.

Ya, dia adalah my super dad!

Profesi papa sebagai engineer di maskapai Garuda Indonesia dengan sistem shift pagi, siang dan malam setiap harinya sempat membuat saya, yang saat itu berusia delapan tahun, protes kepada mama.

“Papa kok nggak libur ma? Dina kan mau ke rumah oma opa”

Setiap hari raya Idul Fitri, dimana semua anak seusia saya pergi berkumpul ke rumah kakek nenek, saya tidak bisa merasakan hal yang demikian. Papa tetap masuk kerja karena pada hari raya Idul Fitri yang merupakan High Season (waktu dimana penumpang pesawat banyak melakukan berpergian ke luar kota maupun ke luar negeri, biasanya saat liburan sekolah dan hari raya Idul Fitri).

Mama dengan sabarnya memberikan penjelasan kepada saya.

“Kamu liat deh orang yang profesinya pilot atau masinis kereta. Mereka libur ketika Idul Fitri? Nggak kan.. Kalau mereka libur, akan banyak orang yang tidak bisa berlebaran di kampung halamannya. Begitu juga dengan papa kamu.. Kalau nggak ada papa, pesawat nggak bisa terbang, karena pesawat boleh terbang setelah papa check mesin dan komponen pesawat. Setelah dinyatakan oke, barulah pesawat boleh terbang..”

Setelah diberikan penjelasan oleh mama, barulah saya mengerti.

Tak mudah menjadi papa. Pasti saat itu beliau juga ingin berkumpul dengan keluarga, tapi di satu sisi lainnya beliau harus bersikap professional terhadap pekerjaannya. Bahkan cuaca terik dan hujan rela beliau lalui setiap harinya hanya untuk mencari nafkah yang halal.

Di balik penampilannya yang cuek, sebenarnya papa care sama anak-anaknya.

“Girl, safety belt please..”

Contoh kecilnya ialah dari saya kecil sampai saat ini setiap saya berpergian naik mobil bersama papa, papa selalu mengingatkan saya untuk memakai safety belt.

Ketika saya hendak pergi ke luar rumah, beliau selalu mengingatkan dan memastikan bahwa tidak ada barang yang tertinggal.

Ketika saya kecil sampai usia sepuluh tahun, setiap papa kerja shift malam, papa selalu menyempatkan mencium kening saya yang tengah tertidur sebelum berangkat kerja.

Papa juga selalu memberikan semangat kepada anak-anaknya. Nasehatnya yang hingga saat ini saya ingat ialah..

“Kalau mau sukses ya harus mau berusaha, mau sakit dulu.. Mana ada kesuksesan diraih tanpa adanya kerja keras”

Usia papa kini sudah menginjak enam puluh dua tahun. Alhamdulillah masih dipercaya untuk mengaplikasikan ilmunya tentang pesawat terbang. Tetap bekerja dengan sistem shift. Panas dan hujan beliau lalui setiap harinya..

We love you, Pah! Sehat terus ya pah.. Semoga Allah SWT berkenan memberikan umur yang panjang untuk papah

Someday I will find my prince but my Daddy will always be my king.imageimage.

image

image

image

Aku Cinta Kamu Apa Adanya!

“Kupilih hatimu tak ada ku ragu..

Mencintaimu adalah hal yang terindah”

(Ku Pilih Hatimu – Andhika feat Ussy)

Iseng pernah nanya ke mama..

“Ma, mama kenapa mau sama papa? Kenapa nggak milih dokter aja? Mama kan dulunya perawat di rumah sakit..”

“Mama bahagia sama papa. Walaupun papa dulu bukan anak pejabat, Alhamdulillah bisa menyekolahkan ketiga anak mama sampai sarjana. Mama punya rumah dan mama bisa beribadah haji ke Baitullah”

Ya, walaupun papa bukan anak dari pejabat yang kaya raya, mama sudah merasakan bahagia hidup bersama papa lebih dari tiga puluh tahun.

Setiap papa tugas ke luar negeri, papa menabung setiap dollar yang diterimanya. Dari setiap dollar yang papa simpan, Alhamdulillah papa bisa membangun rumah, menyekolahkan ketiga anaknya sampai sarjana dan membawa istri tercintanya naik haji ke Baitullah.

“Mama heran sama anak jaman sekarang. Terlalu pemilih sama calon suami. Maunya sama yang sudah punya mobil. Mama dulu nggak begitu. Papa kamu dulu cuma punya motor tua. Mama nggak pemilih. Kamu jangan pemilih ya din..”

“Iya ma”

“Kamu dengar baik-baik apa kata mama. Harta tidak menjamin kebahagiaan. Yang terpenting hati dan agamanya baik. Kalau kamu ikutin apa kata mama, Insya Allah kamu bahagia ke depannya”

“Iya mama..”

Hampir setiap waktu mama mengingatkan saya dengan memberikan nasehat jangan memilih pasangan hanya karena harta. Pilih yang agama dan hatinya baik.

Setiap pulang dari kantor, saya selalu masuk ke dalam kamar mama. Biasanya mama masih menggunakan mukena dan duduk beralaskan sajadah, mama masih dalam kekhusyukan berdoa seusai sholat maghrib dan menunggu datangnya adzan isya.

“Doa ini bagus kalau kamu baca sehabis sholat lima waktu, selalu doakan suami kamu, doa ini bagus untuk kesuksesan suami kamu kelak. Doa istri itu ampuh layaknya doa Ibu”

“Iya ma..”

Entah sudah berapa kali mama selalu mengingatkan saya akan hal itu. Mama ingin anak-anak perempuannya memberikan support untuk suaminya kelak. Di balik kesuksesan suami ada istri yang setia memberikan support kepada suami. Menjadi tempat di kala suami sedang dirundung masalah..

“Dibalik kesuksesan seseorang, selalu ada orang dibelakangnya. Ia adalah sumber inspirasi & motivasi. Dua orang yang paling berpengaruh adalah orangtua dan pasangan hidup kita. Ibu memiliki peran yang besar dalam keberhasilan seorang anak. Pantaslah jika ia disebut Bidadari pertama. Bidadari kedua adalah istri. Dukungan istri sangat menentukan keberhasilan seorang suami. Selain kepada orangtua, cara menciptakan surga di dunia adalah dengan membangun rumah tangga bersama pasangan yang mencerminkan nilai surgawi. Kebahagiaan bersama pasangan dalam mengarungi kehidupan, dimulai sejak sebelum akad nikah itu sendiri. Caranya? Menjadi sosok yang baik agar mendapat pasangan yang baik” (Dikutip dari buku Sepasang Bidadari)

Aku memilih kamu karena kamu apa adanya, bukan karena ada apanya..

SALAM!

Everyone, please, don’t panic!

Jangan mudah panik ketika masalah datang secara tiba-tiba

Pengalaman yang satu ini menjadi sangat penting dalam hidup saya karena saya benar-benar belajar dari peristiwa tersebut.

Malam hari saat semua penghuni tempat kost tengah lelap tertidur tiba-tiba dibangunkan oleh suara teriakan dari luar.

Aaaaaaaaaa…”

Suara tadi bukan suara tikus kejepit ataupun suara orang yang sedang berlatih vocal.

Saya ikut terbangun.

Kok gelap ya?”

Saya bangun dengan kepala masih pusing karena kaget mendengar suara teriakan seorang perempuan dari kamar sebelah. Saya mencoba mencari lampu senter dan pergi keluar kamar mencari sumber dari teriakan tersebut.

Ternyata suara teriakan tadi berasal dari penghuni kost perempuan (tempat kost yang saya tempati khusus perempuan) yang kaget dan rempong karena tiba-tiba listrik mati.

Saya pun kembali ke kamar dan melanjutkan tidur yang sempat terganggu tadi.

Belum cukup lima menit mata terlelap tiba-tiba terdengar teriakan dan ketukan seseorang dari luar.

Bangun, bangun! Keluar dari kamar sekarang. Kebakaran!”

Lagi-lagi saya loncat dari tempat tidur. Hanya dengan memegang lampu senter saya langsung keluar dari kamar. Terlihat penghuni kost yang lain buru-buru keluar dari kamarnya masing-masing dan turun ke lantai bawah (kamar saya berada di lantai dua). Karena melihat orang panik, saya ikutan panik. Terlihat asap yang sudah mengepul dibeberapa ruangan di lantai dua.

Saya ikutan menyelamatkan diri. Semua penghuni kost berhasil menyelamatkan diri ke tempat yang aman. Semua teman-teman saya duduk beralaskan aspal jalanan di depan rumah kost. Saya melihat mereka sibuk mendekap tas, hp dan laptop mereka, bahkan ada yang membawa kaleng biskuit ke luar rumah.

Duh! Saya baru tersadar kalau saya hanya memegang sebuah lampu senter saja.

Mati deh! Dompet, tas, hp, laptop semua masih di kamar. Dina odong-odong kan..”

Yang saya lakukan saat itu hanya lah pasrah kepada Allah SWT. Yang dipikiran saya, yang penting nyawa selamat itu sudah cukup, barang masih bisa dibeli lagi (filosofi sotoy untuk menenangkan diri pada saat itu).

Lima menit.. Sepuluh menit..

Nih api kenapa nggak berkobar-kobar juga. Masih aman kali ya kalo mau ngambil tas, dompet, hp dan laptop

Pikiran masih tidak bisa tenang teringat barang-barang tersebut.

Setelah situasi dikira masih aman, saya beranikan masuk ke dalam rumah untuk mengambil benda-benda penting tersebut. Hanya bermodalkan lampu senter dan dzikir saat itu saya menerobos naik ke lantai dua. Terlihat asap yang sudah memenuhi ruangan lantai dua dan bau gosong yang teramat menusuk hidung. Dan.. akhirnya saya bisa menyelamatkan benda-benda terpenting itu! Yeay!! Tak mau kalah saya ikut memegang erat tas, hp dan laptop seperti teman-teman yang lain..

Selang beberapa hari dari kejadian tersebut, bencana alam gempa bumi yang berpusat di kota Tasikmalaya terjadi. Saat itu saya tengah belajar mata kuliah assisten dosen akuntansi biaya di lantai sembilan.

Kok goyang ya..”

Papan tulis dan dinding yang kokoh terlihat bergoyang ke kanan dan ke kiri layaknya daun terkena angin.

Seisi ruangan kelas pada saat itu ikutan panik. Semua anak-anak berhamburan keluar kelas. Tidak mau mengulangi kesalahan yang pertama, kali ini saya sempat memasukkan barang-barang berharga ke dalam tas dan berhasil menyelamatkan diri dengan menuruni anak tangga hingga keluar gedung. Bisa dibayangkan bagaimana jika ditengah kepanikan saya lupa membawa barang berharga turun ke lantai dasar dan gedung runtuh seketika akibat gempa yang hebat?

Ternyata tidak hanya saya yang mengalami kejadian saat di tempat kost. Abang saya yang bekerja sebagai internal auditor di salah satu perusahaan ritel, juga sempat mengalami kejadian tersebut. Saat tengah melakukan audit ke luar kota, tempat dimana ia bertugas mengalami kebakaran. Sumber api berasal dari salah satu restaurant. Menurut penuturannya karena panik, dia tidak sempat membawa barang-barang berharga. Setelah tersadar barang berharga (tas dan laptop) tertinggal, dia berusaha menerobos asap yang tebal untuk menyelamatkan barang tersebut. Akhirnya dengan bermodalkan lampu senter dan doa, abang berhasil menyelamatkan tas dan laptopnya.

Tetaplah tenang setiap masalah datang tiba-tiba. Karena dengan pikiran yang jernih, kita masih bisa memikirkan apa yang semestinya kita lakukan. Jangan jadikan diri kita pribadi yang ceroboh hanya karena sedang panik.

Everyone, please, Don’t panic!

Note : Kebakaran tidak jadi melanda rumah dimana saya kost. Hanya terjadi korsleting listrik yang menyebabkan percikan api kecil dan asap . PLN datang tepat waktu sebelum api membesar.

Islamic New Year

“Dari Syadad bin Aus r.a, dari Rasulullah SAW, Bahwa beliau berkata, “Orang yang pandai adalah yang menghisab (mengevaluasi) dirinya sendiri serta beramal untuk kehidupan sesudah kematian. Sedangkan orang yang lemah adalah dirinya mengikuti hawa nafsunya serta berangan-angan terhadap Allah SWT” (HR. Imam Turmudzi)

Beberapa hari lagi kita akan menyambut Islamic New Year 1 Muharram 1435 H. Alangkah baiknya jika kita menyambut Islamic New Year dengan muhasabah. Saya menyebutnya muhasabah karena muhasabah sendiri identik dengan kegiatan introspeksi diri atas apa yang telah kita lakukan dan apa yang harus kita perbaiki demi masa depan yang lebih baik.

Mengetahui akan segala sesuatu baik kecil maupun besar atas apa yang kiita lakukan di dunia ini akan dimintai pertanggungjawabannya kelak di akherat. Inilah salah satu hikmah muhasabah dalam diri setiap manusia.

Pertama kali saya merasakan apa itu muhasabah saat saya melakukan Ibadah Umroh. Di Masjidil Haram, di depan Ka’bah, rumah Allah langsung saya dan jamaah dibimbing oleh Habib melakukan muhasabah. Tepat pukul satu malam waktu setempatkami berkumpul di lobby hotel. Lalu kami berjalan kaki menuju Masjidil Haram. Sunyi dan damai.. itu yang kami rasakan saat melakukan muhasabah. Terlihat orang yang tengah sibuk melakukan tawaf mengelilingi Ka’bah. Sungguh suatu pengalaman yang tak terlupakan.

Menyambut tahun baru islam ini sekiranya waktu yang tepat untuk mereview kembali amalan-amalan yang telah kita perbuat. Amalan-amalan yang baik tetap kita pertahankan dan kita tingkatkan porsi amalan yang baik agar menjadi lebih baik lagi. Meninggalkan semua perbuatan yang tidak bermanfaat, baik untuk diri kita dan orang sekitar. Penyambutan tahun baru ini tidak selayaknya seperti orang-orang non muslim merayakan tahun baru setiap tahunnya.

Dari muhasabah kita berusaha untuk menjadi hamba Allah SWT yang taat akan perintahnya, dengan menjalankan semua kewajiban dan menjauhi segala larangannya. Jika dimasa lalu masih banyak berbagai kemaksiatan yang kita lakukan, maka marilah kita ganti kemaksiatan itu dengan semangat meperbanyak amalan saleh.

Kapan lagi kita memperbaiki diri, kalau bukan dimulai dari sekarang? Dan pantasakah kita menundanya? Padahal kita tidak tahu kapan kehidupan di dunia ini berkahir? Kehidupan di dunia tidak kekal, dan semua yang bernyawa pasti akan merasakan kematian. Sekarang kita masih hidup, tetapi siapa yang tahu besok pagi kita akan mati.

Sungguh malang nasibnya jika setiap tahun individu harus terjatuh dan terjatuh lagi di tempat yang sama. Bergantinya hari, bulan, dan tahun tentu membuat umur kita pun semakin berkurang serta ini menjad pertanda bahwa alam dunia pun akan semakin dekat  untuk kita tinggalkan dan kelak kita siap memasuki alam kubur.

Untuk menyambut tahun baru islam 1 Muharram 1435, yuk kita melakukan muhasabah terhadap diri sendiri. Amalan baik apa yang sudah kita lakukan selama satu tahun terakhir ini, perbuatan yang tidak baik dan tidak bermanfaat kita tinggalkan untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih dan saling menasehati supaya menaati kebenaran dan saling menasehati supaya menetapi kesabaran”

Persiapan Menjadi Ibu

The moment a child is born, the mother is also born. She never existed before. The woman existed, but the mother, never. A mother is something absolutely new. – Rajneesh

Tak ada moment yang lebih bahagia di dunia ini selain menjadi Ibu. Untuk memberikan petuah-petuah bagaimana seyogyanya menjadi calon Ibu yang baik sudah menjadi rutinitas mama yang terlebih dahulu pernah merasakan luar biasanya tugas seorang Ibu.

“Nanti kalau kamu hamil din nggak makan banyak karbohidrat nggak apa-apa. Yang penting banyak protein untuk nutrisi si janin yang ada di perut kamu..”

“Iya ma..”

“Nanti kalau kamu hamil din, jangan lupa minum air kelapa muda kelapa hijau karena bayi kamu nanti akan bersih kulitnya, putih kulitnya, rambutnya lebat serta bening matanya”

“Iya..”

“Nanti kalau kamu hamil, jaga makanan. Jangan banyak makan karbohidrat seperti nasi. Olahraga sedikit-sedikit perlu lah supaya berat badan kamu nggak naik drastis”

“He’eh”

“Sebelum hamil juga rajin minum susu untuk persiapan hamilnya. Nanti setelah hamil juga rajin minum susu, bagus untuk kecerdasan otak bayinya”

“He’eh”

“Selama kamu hamil kamu harus rajin baca Surah Yusuf supaya anak kamu cantik rupa dan akhlaknya. Jangan malas ya baca Quran selama kamu hamil nanti”

“Iya mama..”

“Makan kacang hijau waktu hamil juga bagus tuh khasiatnya..”

“He’eh”

“Kamu sekarang rajin kan minum susu setiap pagi. Nah nanti bagus tuh bunda sama dede bayinya sama-sama minum susu tiap paginya”

Pernyataan yang terakhir lebih baik diabaikan saja.

Saya juga belajar bagaimana menjadi seorang Ibu ketika dede rachma sedang berada di Tangerang kurang lebih tiga tahun. Dede rachma merupakan anak dari kakak sepupu saya yang tinggal di Sumatera. Ayah Ibunya sudah bercerai. Mama dan tante yang kebetulan tinggal di satu komplek memutuskan untuk mengasuh salah satu dari anak kakak sepupu saya tersebut. Sebelum akhirnya kakak sepupu saya meminta kembali anaknya.

Dede rachma nakalnya bukan main. Berjenis kelamin perempuan tetapi kelakuan lebih banyak seperti laki-laki. Usianya lima tahun saat kami asuh. Hobinya berantem dengan teman-teman lawan jenisnya. Naik sepeda dalam komplek suka ngebut bak pembalap professional. Anaknya hiperaktif. Susah diatur. Tetapi dia mudah bergaul dengan siapa pun. Semua orang di komplek perumahan kenal dengan dirinya. Hobinya main dan susah untuk disuruh tidur siang.

“Dede rachma sekarang tidur siang ya. Matiin TV nya. Tidur..”

“Iya Kak..”

Saya tinggal sepuluh menit dan ketika saya tengok ke dalam kamar sudah tidak mendapati dirinya lagi.

“Kemana ini bocah?”                                                            

Ternyata dia sedang duduk di ruang tamu.

“Kamu lagi ngapain? Nggak tidur siang?”

“Rachma nggak bisa tidur kak..”

Saya sempat putus asa memikirkan bagaimana caranya menidurkan ini anak. Akhirnya saya memakai jurus terkahir.

“Rachma tidur yuk sama kakak. Kakak juga mau tidur nih ngantuk”

Saya terpaksa ikut tidur juga untuk menemani dede rachma tidur. Setelah saya usap-usap rambutnya barulah ia tertidur pulas.

Suatu pagi setelah dia bangun tidur. Saya menyuruhnya untuk mandi.

“Rachma mandi ya. Abis mandi baru sarapan”

“Rachma maunya dimandiin sama kak Dina..”

“What??”

Gemass sekali saya rasanya melihat anak ini. Akhirnya saya menuruti kemauannya. Saya mandikan dia.

Pernah saya mendapati dirinya memakai celana seragam TPA (Taman Pendidikan Al-Quran) yang sobek karena hobi berantemnya dengan anak-laki-laki seumurnya. 

Lagi-lagi saya gemass dibuatnya.

“Ini kenapa celana bisa sobek begini? Abis berantem ya sama teman kamu?”

“Nggak, celananya sobek sendiri. Mana kak aku pake aja celananya”

“Jangan, sini kakak jahit dulu celananya. Kamu nggak malu pake celana sobek begini? Jangan berantem lagi ya. Kakak nggak mau kalau sampai nanti celana kamu sobek lagi kayak gini”

“Iya kak..”

Pernah juga suatu ketika, saya mendapati dede rachma berdiam diri seharian penuh. Saya mencoba mendekati dirinya yang sedang duduk menyendiri.

“Kamu udah makan makan belum? Makan yuk”

“Rachma nggak mau makan kak”

“Kenapa?”

“Nggak mau makan aja”

“Hhhmm.. Rachma mau makan apa nanti kakak buatin”

“Nggak kak”

 Sampai putus asa saya membujuknya untuk makan. Dan akhirnya saya pakai jurus terakhir saya..

“Kakak masakin mie rebus ya? Tunggu sebentar ya Rachma..”

Beberapa menit kemudian saya balik dengan membawa semangkuk mie rebus untuknya.

“Sini kakak suapin..”

Dan akhirnya si anak unik ini mau melahap abis makan siangnya.

Pernah selepas sholat maghrib saya sedang melantunkan ayat Suci Al-Quran di dalam kamar, dede Rachma masuk ke dalam kamar saya dan duduk mendekati. Dia menyimak saya yang sedang membaca Al-Quran hingga selesai.

“Kakak hebat baca Al-Qurannya. Rachma juga mau bisa kayak kakak bisa jago baca Al-Quran”

“Kalau kamu mau jago baca Al-Qurannya jangan malas-malas belajar di TPA nya ya. Jangan bandel sama teman-teman dan Bapak Ibu gurunya”

“Iya kak..”

Tidak ada salahnya belajar untuk menjadi Ibu. Dari pengalaman-pengalaman yang kita sudah alami bisa menjadi pembelajaran yang baik. Dan nasehat-nasehat dari orang yang sudah pernah mengalami menjadi Ibu dapat menjadi masukan yang baik.

Being a mom is an amazing experience!